KETIKA ANGAN MENJULANG TINGGI
Musim buah telah tiba
Beribu warna menggugah selera
Tidak kah hatimu merasa iba
Banyak dhuafa menahan rasa
Mencari daun di dalam hutan
Tak satu jenis dirasa cukup
Wahai kemanakah segenap insan
Ketika kemiskinan tak bisa ditutup
Lihatlah ke arah jendela
Sinar mentari mulai berbisik
Kemanakah wahai para pengembala
Saat rintihan tangis si miskin semakin mengusik
Saat kulihat nestapa yatim sendiri
Hati bagai tertusuk duri
Wahai sang penguasa negeri
Dimanakah kau simpan hati nurani
Para pendekar silat lidah
Bergerilya mencari simpati
Entah kapan sandiwara ini bersudah
Hanya akan menambah luka dihati
Musim buah telah tiba
Beribu warna menggugah selera
Tidak kah hatimu merasa iba
Banyak dhuafa menahan rasa
Mencari daun di dalam hutan
Tak satu jenis dirasa cukup
Wahai kemanakah segenap insan
Ketika kemiskinan tak bisa ditutup
Lihatlah ke arah jendela
Sinar mentari mulai berbisik
Kemanakah wahai para pengembala
Saat rintihan tangis si miskin semakin mengusik
Saat kulihat nestapa yatim sendiri
Hati bagai tertusuk duri
Wahai sang penguasa negeri
Dimanakah kau simpan hati nurani
Para pendekar silat lidah
Bergerilya mencari simpati
Entah kapan sandiwara ini bersudah
Hanya akan menambah luka dihati

Tidak ada komentar:
Posting Komentar